Ragam Suku di Sulawesi Tenggara


 1. Suku Tolaki.
Suku Tolaki adalah komunitas masyarakat yang mendiami kota Kendari, Kabupaten Konawe, Konawe Utara dan Konawe Selatan di Sulawesi tenggara.
Menurut cerita rakyat, dahulu kala, terdapat sebuah kerajaan di Sulawesi Tenggara yang bernama Kerajaan Konawe. Dan keturunan orang-orang kerajaan tersebutlah yang kini dikenal sebagai masyarakat suku Tolaki.
  Dahulu, orang Tolaki merupakan masyarakat nomaden. Mereka hidup secara berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya, hidup dari hasil berburu serta mencari tempat baru untuk membuka ladang.
  Menurut Tarimana,R (1993) pada mulanya orang Tolaki merupakan migrasi dari Yunnan, Cina. Pada awal pelayaran, mereka singgah di Kepulauan Filipina kemudian singgah di Pesisir Pulau Sulawesi, yaitu Manado.
Selanjutnya mereka menuju Kepulauan Halmahera. Dari kepulauan inilah kemudian berlanjut memasuki pesisir Tenggara Pulau Sulawesi.
  Orang Tolaki pada umumnya menamakan dirinya Tolahianga yang artinya orang dari langit.
Menurut Tarimana, R (1993), mungkin yang dimaksud “langit” adalah “kerajaan langit” sebagaimana dikenal dalam budaya Cina (Granat, dalam Needhan; 1973, yang dikutip Tarimana). Dalam dugaannya, ada keterkaitan antara kata “hiu ” yang dalam bahasa Cina berarti “langit“ dengan kata “heo” (Tolaki) yang berarti “ikut dari langit”.

 2. Suku Mekongga.
Suku Mekongga adalah komunitas masyarakat yang mendiami kabupaten Kolaka dan sebagian kecil mendiami kabupaten Kolaka Utara, provinsi Sulawesi Tenggara.
Suku Mekongga merupakan sub etnik dari suku Tolaki.
Menurut orang Tolaki, suku Mekongga adalah orang Tolaki juga.
Konon, istilah Mekongga berasal dari kata To Mekongga. To artinya orang dan Mekongga berarti pembunuh Elang raksasa. Jadi, To Mekongga maksudnya adalah orang yang membunuh Elang raksasa.
Dalam Bahasa Mekongga, Burung Elang Raksasa adalah Konggahaa.
  Kabupaten Kolaka yang menjadi tempat berdiamnya orang Mekongga sering disebut sebagai Bumi Mekongga. Dan di sana terdapat sebuah gunung yang bernama Gunung Mekongga.
Menurut orang Mekongga, Gunung Mekongga merupakan sebuah gunung keramat.
Menurut cerita rakyat, di Gunung tersebut terdapat Tebing Putih yang bernama Musero-sero. Di mana tebing tersebut diyakini sebagai pusat kerajaan jin untuk wilayah Kolaka Utara.

 3. Suku Buton.
Suku Buton mendiami Pulau Buton yang terletak di sebelah selatan jazirah Sulawesi bagian Tenggara.
Orang Buton dikenal sebagai salah satu suku bangsa perantau. Banyak di antara mereka yang tersebar hingga ke Sabah (Malaysia), Pulau Seram dan Maluku Utara. Mereka memang terkenal sebagai pelaut serta pedagang yang ulet.
  Saat ini, populasinya sekitar 400.000 jiwa.
Bahasa Buton terbagi ke dalam beberapa dialek, seperti dialek Butung, Wolio, Wapacana, Cia-Cia, dan Wakatobi. Kemudian sub dialek itu terbagi lagi ke dalam kurang lebih 22 sub dialek.

 4. Suku Wulio.
Suku Wolio adalah komunitas masyarakat yang tersebar di di kepulauan Buton, Muna serta Kabaena di provinsi Sulawesi Tenggara.
Populasi suku Wolio diperkirakan lebih dari 30.000 orang.
Suku Wolio berbicara dengan bahasa Wolio.
Bahasa Wolio merupakan sub-bahasa Buton-Muna, yang termasuk cabang bahasa Austronesia.
Menurut para peneliti, suku Wolio merupakan bagian dari sub suku Buton.
Konon, dahulunya orang Wolio juga merupakan keturunan dari kerajaan Buton yang sejak abad 15 menguasai wilayah Buton.
Hingga saat ini, Bahasa Wolio masih dipakai oleh masyarakat (khususnya mereka yang bertempat tinggal di Kota Bau-bau), juga tetap dikenal oleh masyarakat yang berasal dari daerah bekas pemerintahan kesultanan Buton.

 5. Suku Muna.
Suku bangsa Muna yang sering juga disebut Tomuna menetap di Pulau Muna.
Jumlah populasinya sekitar 300.000 jiwa.
Orang Muna kebanyakan bekerja sebagai nelayan dan petani di ladang-ladang dengan tanaman utamanya jagung. Selain itu mereka juga menanam ubi, tebu, kelapa dan sayur-sayuran.
Makanan khas orang Muna yang terkenal yaitu Kabuto yang terbuat dari ubi.
Tanaman komoditi ekspor mereka adalah kopi, tembakau, cengkeh dan kapuk.

 6. Suku Moronene.
Suku Moronene mendiami wilayah bagian ujung selatan jazirah Sulawesi Tenggara.
Sebelum nama Moronene, digunakan Wonua Bombana/Wita Moronene, yaitu kerajaan Moronene seperti yang dituturkan dalam kada (suatu legenda dalam sastra moronene). Didalam kada dituturkan bahwa kerajaan Moronene diperintah oleh seorang Raja yang bernama Tongki Pu’u Wonua. Tidak diketahui dari mana asalnya dan siapa orangnya, hanya dituturkan bahwa beliau adalah seorang keturunan Raja dari sebuah kerajaan.
Nama Moronene telah lazim digunakan untuk nama bahasa dan nama suku bangsa yang dahulunya terhimpun dalam satu wadah Kerajaan Moronene.
Secara etimologis istilah Moronene berasal dari dua kata yaitu moro yang artinya sejenis, serupa, dan kata nene adalah nama tumbuhan resam yang batangnya dapat dibuat pengikat pagar, atap dan lain-lain.

 7. Suku Kabaena.
Suku Kabaena adalah suku yang bermukim di Pulau Kabaena, kabupaten Bombana, provinsi Sulawesi Tenggara.
Suku Kabaena hidup di pulau yang sepanjang garis pantainya banyak ditemukan hamparan batu-batu permata biru yang berkilauan terkena sinar matahari. Selain itu di pulau ini diduga banyak terdapat kandungan emas. Pulau Kabaena ini juga menjadi salah satu tujuan wisata bagi para wisatawan asing maupun lokal, Karena keindahan pulau ini sudah terkenal sebagai salah satu tempat wisata di pulau Sulawesi.Di pulau Kabaena selain suku Kabaena sebagai penduduk asli pulau ini, juga ada etnis lain yang menghuni pulau ini, yaitu suku Bajo yang bermukim di kecamatan Kabaena Barat.

 8. Suku Wawonii.Suku ini terdapat di pulau Wawonii yang banyak ditumbuhi pohon kelapa.
Konon, nama Wawonii diambil dari kata wawo yang berarti atas dan nii yang berarti kelapa.
Menurut cerita, nenek moyang Orang Wawonii berasal dari kampung Lasolo dan Soropia (Torete) dan daratan Buton Utara di kampung Kulisusu. Mereka telah mendiami pulau ini sejak berabad-abad yang lalu.
Suku Wawonii juga terkenal dengan ilmu hitam (santet) yang dapat dengan mudah melumpuhkan lawannya. Tetapi ilmu ini sudah jarang digunakan oleh sebagian orang Wawonii karena ilmu itu hanya bisa digunakan oleh orang tertentu saja.

Di samping suku-suku yang telah disebutkan di atas, di Sulawesi Tenggara terdapat juga suku-suku lainnya seperti Jawa, Sunda, Bugis, Makassar, sebagian kecil orang Minang dan masih banyak lagi.
Sekian tentang ragam suku di Sulawesi Tenggara, semoga bermanfaat.

 Sumber: Suku Duniat

Komentar

  1. Ternyata bukan ranah minang sama batak aja yg multi suku.
    Di tempat lain jga ada.
    Lanjut.

    BalasHapus

Posting Komentar

terima kasih telah berkunjung ke situs kami.
comment dan masukan anda sangat berguna untuk kemajuan situs ini.
salam langgammutiara media.

Postingan Populer